1.
Muqaddimah
Surah at-Tahrim
disepakati sebagai surah Madaniyah. Namanya yang paling populer adalah surah
at-Tahrim (Mengharamkan). Tetapi ada juga yang menamainya surah an-Nabiy.
Nama-nama tersebut diangkat dari ayat pertama surah ini. Surah at-Tahrim merupakan
surah ke-66 dalam urutan surah pada al-Qur’an dan terdiri dari 12 ayat.
Tema utama
surah ini adalah menurut Ibnu Asyur yaitu tuntunan agar seseorang tidak
menghalangi dirinya melakukan sesuatu yang dibenarkan Allah hanya dengan alasan
untuk menyenangkan pihak lain karena hal tersebut bukanlah kemaslahatan baginya
dan bagi orang lain.
2.
Terjemah
$pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? ’n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R 4Ó|¤tã öNä3š/u‘ br& tÏeÿs3ムöNä3Ytã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öNà6n=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “ÌøgrB `ÏB $ygÏFøtrB ã»yg÷RF{$# tPöqtƒ Ÿw
“Ì“øƒä† ª!$# ¢ÓÉ<¨Z9$# z`ƒÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB ( öNèdâ‘qçR 4Ótëó¡o„ šú÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& öNÍkÈ]»yJ÷ƒr'Î/ur tbqä9qà)tƒ !$uZ/u‘ öNÏJø?r& $uZs9 $tRu‘qçR öÏÿøî$#ur !$uZs9 ( y7¨RÎ) 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« փωs% ÇÑÈ $pkš‰r'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# ωÎg»y_ u‘$¤ÿà6ø9$# tûüÉ)Ïÿ»oYßJø9$#ur õáè=øñ$#ur öNÍköŽn=tã 4 óOßg1urù'tBur ÞO¨Yygy_ ( }§ø©Î/ur çŽÅÁyJø9$# ÇÒÈ šUuŽŸÑ ª!$# WxsVtB šúïÏ%©#Ïj9 (#rãxÿx. |Nr&tøB$# 8yqçR |Nr&tøB$#ur 7Þqä9 ( $tFtR%Ÿ2 |MøtrB Èûøïy‰ö6tã ô`ÏB $tRÏŠ$t7Ïã Èû÷üysÎ=»|¹ $yJèd$tFtR$yÜsù óOn=sù $uŠÏZøóム$uKåk÷]tã šÆÏB «!$# $\«øŠx© Ÿ@‹Ï%ur Ÿxäz÷Š$# u‘$¨Z9$# yìtB tû,Î#Åzº£‰9$# ÇÊÉÈ šUuŽŸÑur ª!$# WxsVtB šúïÏ%©#Ïj9 (#qãZtB#uä |Nr&tøB$# šcöqtãöÏù øŒÎ) ôMs9$s% Éb>u‘ Èûøó$# ’Í< x8y‰YÏã $\F÷t/ ’Îû Ïp¨Yyfø9$# ÓÍ_ÅngwUur `ÏB šcöqtãöÏù ¾Ï&Î#yJtãur ÓÍ_ÅngwUur šÆÏB ÏQöqs)ø9$# šúüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÊÈ zNtƒósDur |MoYö/$# tbºtôJÏã ûÓÉL©9$# ôMoY|Áômr& $ygy_ösù $sY÷‚xÿoYsù ÏmŠÏù ÆÏB $oYÏmr•‘ ôMs%£‰|¹ur ÏM»yJÎ=s3Î/ $pkÍh5u‘ ¾ÏmÎ7çFä.ur ôMtR%x.ur z`ÏB tûüÏFÏZ»s)ø9$# ÇÊËÈ
Artinya:
(8).
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami,
sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(9). Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik
dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu
adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
(10). Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi
orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang
hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat.
kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka
sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah
ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
(11). Dan Allah membuat isteri Fir'aun
perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku,
bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah
aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
(12). Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang
memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh
(ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia
adalah Termasuk orang-orang yang taat.
3.
Tafsir Kosa Kata
نَصُوْحًا = Nasihat
يُخْزِيْ = Penghinaan
لَايَخْزِي الله = Allah tidak menghina
مَعَهُ = Bersamanya
اَتْمِمْ =
Sempurnakanlah
اَلدَّاخِلِيْن = Orang-orang yang masuk
عِنْدَكَ = Di sisi-Mu
4.
Asbab al-Nuzul
Sufyan
ats-Tsauri meriwayatkan dari Musa bin Abu Aisyah dari Sulaiman bin Qaram, “Aku
mendengar Ibnu Abbas r. a. mengatakan berkenaan dengan ayat 9-10, ‘kemudian
keduanya mengkhianati dua orang suami itu,’ beliau mengatakan, ‘kedua istri itu
bukan berzina. Karena, pengkhianatan istri Nuh adalah pemberitahuannya bahwa
suaminya itu orang gila. Sedangkan, pengkhianatan istri Luth adalah
memberitahukan kepada masyarakat tentang tamu-tamu yang dating ke rumahnya.”
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r. a., “Pengkhianatan kedua istri itu
adalah tidak mau memeluk agama suami mereka.
Kemudian, Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Abu Buzzah berkata, “Istri
Fir’aun pernah bertanya kepada seseorang, ‘Siapakah yang berkuasa?’ Lalu dia
menjawab, ‘Yang berkuasa itu adalah Tuhan Musa dan Harun.’ Lalu dia mengatakan,
‘Aku beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.’ Tidak lama kemudian Fir’aun mengutus
seseorang kepadanya dan mengatakan, ‘Carilah batu yang paling besar. Bila dia
tetap dengan ucapannya itu maka lemparkanlah batu itu kepadanya. Namun, bila
mencabut perkataannya itu maka dia tetap istriku.’ Ketika mereka dating
menjemputnya maka mengarahkan pandangannya ke langit, ternyata dia melihat
rumahnya dalam surga. Sehingga dia berpegang teguh dengan ucapannya itu dan
nyawanya pun melayang, sedangkan batu itu dilemparkan kepada jasad yang sudah
tidak bernyawa lagi. Sehubungan dengan ucapannya, ‘Tuhanku, bangunlah untukku
sebuah rumah di sisi-Mu,’ para ulama mengatakan, ‘Dia telah memilih tetangga
dulu sebelum membangun rumah.’”
(Tafsir Ibnu Katsir IV: -: 755 & 757)
5.
Penjelasan
Allah
berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat
yang semurni-murninya,” yaitu tobat yang benar dan konsisten, yang akan
menghapus semua kesalahan yang telah lalu, yang akan menyatukan dan
mengumpulkan orang yang bertobat, juga menahan dirinya dari perbuatan-perbuatan
yang rendah dan hina.
Allah SWT
memerintahkan kepada Rasul-Nya agar memerangi orang-orang kafir dan munafik.
Yang satu dengan pedang serta pertempuran dan yang satu lagi dengan menegakkan
had atas mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Allah membuat perumpamaan bagi
orang-orang kafir yaitu perumpamaan tentang keadaan mereka yang berbaur dan
hidup bergandengan dengan orang-orang islam, sama sekali bukanlah jaminan bagi
mereka. Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari semua itu di sisi Allah, bila
tidak ada iman dalam dada mereka.
Kemudian Allah
menyebutkan perumpamaan itu, “Yaitu seperti istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh diantara
hamba-hamba Kami.” Lalu kedua istri tersebut berkhianat kepada dua suami itu.
Maksudnya, keduanya tidak mau berjalan seiring dalam keimanan dan tidak
mempercayai kerasulan mereka. Semuanya tidak akan memperoleh apa-apa dan tidak
akan mampu menolak petaka yang akan ditimpakan kepada keduanya. Pengkhianatan
yang telah dilakukan dua istri itu bukanlah penyelewengan, akan tetapi
pengkhianatan dalam agama.
(Tafsir Ibnu Katsir IV: -: 753-755)
Ayat 8-12 merupakan lanjutan ayat yang lalu
yang mengandung nasihat dan tuntunan kepada kaum beriman, apalagi setiap orang
berpotensi melakukan kesalahan dan kekeliruan. Kata ( نصو حا ) nashuhan berarti yang
bercirikan ( نصح ) nush. Dari kata ini
lahir kata nasihat, yaitu upaya untuk melakukan sesuatu, baik perbuatan maupun
ucapan yang membawa manfaat untuk yang dinasehati. Kata ini juga
bermakna tulus/ikhlas. Menurut Al-Qhurtubi, taubat yang nasuh adalah yang
memenuhi empat syarat. Yaitu, istighfar dengan lisan, meninggalkan dosa dengan
anggota badan, memantapkan niat untuk tidak mengulanginya, dan meninggalkan
semua teman buruk.
Kata ( معه ) ma’ahu/bersamanya dapat dipahami dalam arti yang hidup
bersama Nabi SAW, yakni sahabat-sahabat beliau, bisa juga kebersamaan itu tidak
dikaitkan dengan masa tertentu, tetapi dengan ketulusan beragama dan pengamalan
sunnah Nabi SAW.
Dalam ayat selanjutnya menerangkan tentang anjuran mendidik
keluarga, dilanjutkan dengan gambaran keadaan Nabi dan orang-orang yang
beriman. Dalam ayat ke-9 ini, menguraikan bagaimana menyikapi lawan orang-orang
beriman, baik kafir maupun munafik. Orang-orang kafir dan munafik sering kali mengotori
lingkungan dengan ide dan perbuatan-perbuatan mereka. Karena itu, Allah
memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan agar beliau diteladani umatnya, bahwa: “Hai
Nabi berjihadlah dengan hati, lisan, harta, serta jiwa dan kemampuan apapun
yang kamu miliki sesuai situasi dan kondisi, menghadapi kesesatan dan kebejatan
orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dan tempat mereka setelah kematian
adalah neraka jahannam.
Setelah ayat-ayat yang lalu menganjurkan untuk mendidik istri dan
anak, dan memerintahkan untuk bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang
munafik dan kafir, ayat-ayat berikutnya
(10-12) berbicara tentang istri para Nabi yang lalu dan wanita yang paling
terhormat sebagai penutup surah ini.
Allah berfirman: “Allah membuat perumpamaan, yakni sesuatu yang
sangat menakjubkan yang dapat diambil darinya pelajaran, bagi orang-orang
kafir, yaitu perihal istri Nabi Nuh yang konon namanya Wahilah yang umatnya
dibinasakan Allah dengan tofan dan banjir besar dan istri Nabi Luth yang
namanya Wahilah dan yang dijungkirbalikkan negrinya akibat kedurhakaan mereka.
Perumpamaan di atas adalah bahwa ikatan apa pun baik ikatan darah
atau ikatan persahabatan maupun ikatan perkawinan sma sekali tidak akan
membantu seseorang selama itu tidak disertai oleh stradalah
Nabi dan hamba Allah yang shaleh.
Dan Allah
membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman istri Fir’aun ketika ia berkata:
“Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam syurga dan
selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum
yang zalim,” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya maka Kami
tiupkan kedalam rahimnya sebagian dari ruh ciptaan Kami; dan dia membenarkan
kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk
orang-orang yang taat.
Setelah ayat
sebelumnya memberi perumpamaan tentang dua orang wanita yang durhaka kepada
Allah dan megkhianati suaminya, walaupun suaminya itu Nabi, dan ayat di atas
memberi perumpamaan tentang dua orang wanita, yang pertama taat kepada Allah
dan tidak terpengaruh oleh suaminya yang durhaka, sedang yang kedua adalah
orang yang dipilih sebagai ibu seorang Nabi karena ketaatannya.
(Tafsir
al-Misbah vol. 14: -: 178-188)
Khitab pada
ayat: 8 ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.
Mereka itu diperintahkan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa mereka dengan
taubat yang sebenar-benarnya yang biasa disebut taubat nasuha, yaitu taubat
yang memenuhi tiga syarat. Pertama, berhenti dari maksiat yang dilakukannya.
Kedua, menyesali atas perbuatannya. Dan yang ketiga, berketetapan hati tidak
akan mengulangi perbuatan maksiat tersebut. Kemudian pada ayat selanjutnya Allah
SWT memerintahkan Rasul-Nya berjihad memerangi orang-orang kafir yang
menghalang-halangi jalannya dakwah dan seruan untuk beriman kepada Allah, dan
memberikan ancaman secara kasar kepada orang-orang munafik, sampai mereka
sadar, serta menjelaskan bahwa balasan mereka nanti di akhirat ialah neraka
jahannam.
Dalam isi
kandungan ayat 10-12 ini merupakan contoh-contoh tentang istri yang baik dan
istri yang tidak baik. Dalam ayat 10 Allah membuat suatu perumpamaan yang
menjelaskan keadaan orang-orang kafir yang tidak berguna dan tidak berpengaruh
baginya pelajaran dan nasehat dari orang-orang mukmin yang jujur, antara lain
para Nabi dan para Rasul karena gelapnya hati mereka, tidak ada kesedian mereka
untuk beriman dan rusaknya fitrah mereka yaitu walihan istri Nabi Nuh dan
wali’ah istri Nabi Luth. Keduanya di dalam asuhan dan pengawasan dua orang
Nabi, yang mestinya dapat memberikan petunjuk sehingga memperoleh kebahagiaan
dunia-akhirat, tetapi keduanya tidak mau, bahkan keduanya berbuat khianat dan
kekafiran. Walihan menuduh suaminya gila, sedang wali’ah menuntun kaum suaminya
untuk berbuat yang tidak wajar dan tidak sopan terhadap tamu-tamu suaminya
yaitu para malaikat. Keakraban kedua istri-istri itu dengan suaminya, tidaklah
dapat membendung dan mencegah keduanya dari berbuat khianat dan kufur. Karena
itu kedua istri itu pantas mendapat azab Allah SWT dan akan dimasukkan ke dalam
neraka bersama rombongan penghuni neraka.
Selanjutnya
dalam ayat 11-12 Allah membuat perumpamaan sebaliknya yaitu keadaan orang orang beriman. Keadaan itu ialah Asiah bin Muzahim istri Fir’aun dan Maryam
bin Imran. Dalam perumpamaan itu Allah menjelaskan bahwa hubungan orang-orang
mukmin dan orang-orang kafir tidak akan membahayakan kalau diri itu murni dan
suci dari kotoran. Sekalipun asiah berada di bawah pengawasan suaminya, musuh
Allah yang sangat berbahaya, yaitu Fir’aun, tetapi ia tetap beriman. Dan dalam
perumpamaan terhadap Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya dan telah
diberikan karamah di dunia-akhirat. Ia dipilih Tuhannya, karena ia memberi
reaksi kepada Jibril tentang pengisian rahimnya dengan ucapan sebagaimana
diabadikan di dalam Al-Qur’an surat Maryam: 18 yang artinya: “Sesungguhnya aku
berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang
bertaqwa.” Dengan demikian mantaplah keshalehannya dan kesempurnaan
kesuciannya, maka ditiupkanlah ke dalam rahimnya oleh Jibri as sebagian roh
ciptaan Allah, yang mewujudkan seorang Nabi yaitu Isa as bin Maryam binti
Imran, membenarkan syariat Allah SWT dan kitab-kitab yang di turunkan-Nya
kepada Nabi-Nya. Dia termasuk dan terbilang orang yang bertaqwa, tekun
beribadah, merendahkan diri kepada Tuhannya dan taat kepada-Nya.
(Tafsir Jalalain)
7.
Kesimpulan
Ø
Allah memerintahkan supaya orang-orang mukmin bertaubat kepada
Allah SWT dengan taubat nasuha.
Ø
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad supaya berjihad memerangi
orang-orang kafir dan mengancam serta bersikap keras terhadap orang-orang
munafik.
Ø
Orang-orang munafik dan orang-orang kafir akan dimasukkan ke dalam
neraka jahannam, seburuk-buruk tempat tinggal.
Ø
Walihah dan Wali’ah dijadikan Allah perumpamaan. Keduanya
masing-masing istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Istri-istri itu mestinya menjadi
orang-orang yang shalehah karena asuhan dan bimbingan suaminya, tetapi dirinya
kotor, maka tetap saja khianat dan berbuat kufur. Oleh sebab itu keduanya
dimasukkan ke dalam neraka bersama rombongan penghuni neraka.
Ø
Asiah binti Muzahim istri Fir’aun oleh Allah, dijadikan
perumpamaan. Sekalipun Asiah istri seorang musuh Allah yang keterlaluan tetapi
dirinya bersih dan suci, maka tetap ia beriman dan selalu berdo’a supaya ia
dibuatkan rumahnya di surga.
Ø
Allah SWT mwnjadikan Maryam binti Imran sebagai contoh dan tauladan
yang memelihara kehormatannya, tidak ternoda, maka ditiupkan ke dalam rahimnya
ruh yang mewujudkan Isa yang kemudian menjadi Nabi Isa termasuk orang-orang
yang taat, membenarkan kalimat Allah, mempercayai Tuhannya, dan kitab-kitabnya.
Komentar